Hati menjadi keras
dan sulit menerima hidayah disebabkan karena:
1. Banyak bicara dan meninggalkan dzikrullah.
Ini disimpulkan dari hadits Rasulullah saw,
"Janganlah kamu banyak bicara kecuali dzikrullah. Sungguh, banyak
bicara itu membuat hati menjadi keras, dan orang yang paling jauh dari Allah
adalah yang berhati keras," (HR
Tirmidzi No.2413, Malik dan Baihaqy).
Dalam riwayat lain, beliau bahkan menyebut hati yang keras sebagai salah
satu biang kesengsaraan (HR
al-Bazzar, Majma az-Zawaid 10/226).
2. Banyak tertawa.
Kebiasaan buruk ini menjadikan hati lalai mengingat Allah, sehingga
menjadikan hati kehilangan ruh dan kesadaran jati diri. Maka tepat, jika
Rasulullah saw jauh-jauh hari mengingatkan untuk menghindari kebiasaan yang
satu ini.
"Janganlah kalian banyak tertawa, karena hal itu dapat mematikan
hati,"(HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Apalagi jika yang dimakan itu berupa barang syubuhat (meragukan) atau haram,
atau diperoleh dengan cara yang sama. Seorang ulama, Bisyr bin al -Harits,
pernah menjelaskan bahwa banyak bicara dan makan merupakan dua penyebab hati
menjadi keras. selain menyebabkan hati keras, banyak makan akan menyebabkan
badan subur dan besar syahwatnya, inilah "bahan bakar" dari setan
untuk melakukan maksiat. sangatlah bijak Rasulullah mengajarkan kepada kita
supaya puasa karena dengan puasa nafsu syahwat akan teredam.
4. Banyak dosa dan maksiat.
Rasulullah saw sangat tepat dalam salah satu haditsnya, ketika mengibaratkan
dosa seperti titik hitam yang menempel di hati. Jika pelakunya bertobat lalu
meninggalkan kemaksiatannya dan memohon ampun pada Allah, hatinya berubah
mengkilat. begitu juga dengan keimanan dapat bertambah dan berkurang dapat
bertambah jika senantiasa mengingat Allah, dan berbuat kebaikan dan dapat
berkurang dengan lalai mengingat Allah dan senang dengan kemaksiatan.
“Jika kemaksiatannya bertambah, bertambah juga titik itu sehingga hatinya
menjadi tinggi, sombong dan tak dapat menerima kebenaran(HR Tirmidzi).
Ibnu Rajab (736-795 H)
ulama hadits, ahli fiqih dan ushul